Ar-Ruh

Posted on Updated on

Ruh adalah bagian dari kita yang sampai saat ini masih menjadi misteri bagi kita semua, bahkan ruhlah pembatas bagi perkembangan iptek dan agama dari sang khalik. Berikut adalah tulisan saya tentang ruh yang saya dapatkan dari beberapa sumber untuk dijadikan sarat mengukuti UAS matkul umum agama Islam di kampus saya. Semoga bermanfaat

small al-quran

Al Qur’an telah membahas tentang hakekat asal-usul manusia yang di awali dari proses kejadian manusia yaitu dari a’laqah ( melekatnya sperma pada ovum ) (QS. Al Alaq:1-5), dan setelah melewati beberapa tahapan dan sempurna kejadiannya, dihembuskan-Nyalah kepadanya ruh ciptaan Tuhan (QS. Shaad:71-72).
Dari ayat-ayat di atas menjadi jelas bahwa hakikat manusia terdiri dari dua unsur pokok yakni, campuran tanah ( تراب =debu, طين = lumpur, طين لازيب =tanah liat, حامسنون =tanah cadas,كالفجار صلصال =tembikar ) dan hembusan ruh (immateri). Di mana antara satu dengan satunya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan agar dapat di sebut manusia. Dalam perspektif sistem nafs, ruh menjadi faktor penting bagi aktivitas nafs manusia ketika hidup di muka bumi ini, sebab tanpa ruh, manusia sebagai totalitas tidak dapat lagi berpikir dan merasa.

Ruh adalah zat murni yang tinggi, suci, hidup dan hakekatnya berbeda dengan tubuh. Tubuh dapat diketahui dengan pancaindra manusia, sedangkan ruh menelusup ke dalam tubuh sebagaimana menyelusupnya air ke dalam bunga, tidak larut dan tidak terpecah-pecah. Untuk memberi kehidupan pada tubuh selama tubuh mampu menerimanya. Sudah lama “kemisteriusan” ruh menjadi perdebatan di kalangan ulama, teolog, filosof dan ahli sufi yang berusaha menyingkap dan menggali keberadaannya. Mereka mencoba mengupas dan mengulitinya guna mendapatkan kepastian tentang hakekat ruh. Dalam bahasa Arab, kata ruh mempunyai banyak arti.

  • Kata حور untuk ruh
  • Kata حير (rih) yang berarti angin
  • Kata حور (rawh) yang berarti rahmat

* Ruh dalam bahasa Arab juga digunakan untuk menyebut jiwa, nyawa, nafas, wahyu, perintah dan rahmat. Jika kata ruhani dalam bahasa Indonesia digunakan untuk menyebut lawan dari dimensi jasmani, maka dalam bahasa Arab kalimat “Rahaniyun”

Akan tetapi hakikat ruh yang sebenarnya tidak akan bisa dijangkau oleh akal pikiran manusia, karena sudah merupakan suatu ketentuan Allah bahwasanya urusan roh bukanlah urusan manusia. Jawaban singkat al-Qur’an atas pertanyaan itu (lihat QS. Al-Isra’: 85), menunjukkan bahwa ruh akan tetap menjadi “rahasia” yang kepastiannya hanya bisa diketahui oleh Allah semata.
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (QS. Al-Isra’: 85)

Ada kalangan yang bersikukuh bahwa hakikat manusia adalah jasad fisiknya. Ada yang beranggapan bahwa jasad dan ruh terwujud serentak sebagai hakikat pembentuk manusia. Sementara kalangan lain berhujah dengan tak kalah argumentatif bahwa ruh adalah jati dirinya.
Sebenarnya al-Quran telah menyebutkan adanya dimensi lain selain materi pada manusia yang disebut dengan ruh.
Sebagaimana yang terkandung dalam ayat berikut ini, “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ruh-Nya ke dalamnya dan Dia menjadikan untuk kalian pendengaran, penglihatan dan hati tetapi sedikit sekali kalian bersyukur”( QS.As Sajadah:9 ).
Kalimat “meniupkan ruh-Nya ke dalamnya” dalam ayat di atas menunjukkan adanya dimensi yang bernama ruh pada manusia. Bisa kita ambil kesimpulan dari ayat di atas bahwa setelah menyebutkan tentang peniupan ruh kemudian menyebutkan tentang telinga, mata dan hati. Penyebabnya adalah karena sumber yang menggerakkan jiwa (nafs) adalah ruh, begitu juga dengan sumber asli perbuatan anggota badan tersebut adalah ruh, sehingga menghasilkan gejala-gejala.

“Aku meniupkan ruh-Ku”. Ada dua aliran yang mempunyai perbedaan penafsiran ayat ini. Kaum Suni eksterralis view berpendapat bahwa ruh yang dimasukan ke dalam jasad manusia adalah ruh yang diciptakan oleh Allah khusus untuk manusia. Sedangkan kaum Sufi sunni (Sunni Esoteris) dan kaum syiah berpendapat bahwasanya ruh manusia berasal dari ruh Allah itu sendiri.
Penulis sendiri berpendapat bahwa Allah bukan ruh sehingga harus memasukkan sebagian ruh-Nya ke dalam tubuh manusia, akan tetapi yang dimaksud oleh al-Quran dengan penjelasan ini adalah kemuliaan dan ketinggian ruh itu sendiri. Yakni ruh begitu bernilai bagi manusia sehingga Allah menghubungkannya dengan diri-Nya dan mengatakan, “Aku meniupkan kepadanya ruh-Ku”. Bisa kita jelaskan dengan contoh lain seperti masjid adalah rumah Allah. Kita tahu bahwa masjid bukan rumah Allah, karena Dia bukan materi sehingga harus membutuhkan tempat tinggal, akan tetapi maksudnya adalah nilai dan pentingnya masjid sehingga disebut dengan rumah Allah. Contoh lain seperti majelis rakyat juga disebut sebagai rumah rakyat.

Sesungguhnya jiwa itu benar-benar menyuruh kepada keburukan (nafs ammarah)
(QS. Yusuf: 53)

2 thoughts on “Ar-Ruh

    ihsan said:
    August 27, 2009 at 2:37 pm

    terima kasih artikelnya…bagus juga bro….

      Afif responded:
      August 27, 2009 at 11:22 pm

      sama2..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s