Perempuan di Titik Nol

Posted on Updated on

Tidak sedikit posisi strategis sejumlah perempuan diraih lewat perjalanan panjang. Mereka memulainya dari titik nol hingga duduk di kursi empuk. 5 Februari 2009 menjadi saat bersejarah bagi Galaila Karen Agustiawan yang dilantik sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (persero). Hari itu juga menjadi sejarah baru bagi Pertamina dan kaum perempuan Indonesia. Sebab, Karen merupakan direktur utama perempuan pertama sepanjang 41 tahun sejarah perusahaan pelat merah terbesar itu berdiri.

Karier Karen di Pertamina tergolong fantastis. Dia baru meniti karier di sana pada 2006. Saat itu Karen hanya berperan sebagai staf ahli yang tugasnya hanya memberikan jasa konsultasi bagi dirut yang saat itu dijabat Ari Soemarno. Dilihat dari kariernya di Pertamina, Karen baru berpengalaman dua tahun. Namun, bila ditelisik dari kiprahnya di bidang minyak dan gas, karier lulusan Fakultas TeknikFisika, Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1978 ini cukup panjang.

Setelah lulus, Karen mulai berkarier di berbagai industri minyak dan gas, di antaranya di Mobil Oil Indonesia( 1984?1996) dan Halliburton Indonesia (2002?2006). Selama bekerja di Mobil Oil, Karen memegang beberapa posisi, termasuk sistem analis dan pemrogram untuk pengembangan perhitungan cadangan (reserve calculation), processor seismik, dan sistem pengontrol kualitas untuk berbagai proyek seismik.

Karen pernah menjabat sebagai pemimpin proyek departemen komputasi eksplorasi (exploration computing department). Di Halliburton Indonesia, Karen juga perempuan Indonesia pertama yang direkrut sebagai commercial manager. Karena itu, sudah sekitar 24 tahun Karen menggunakan waktunya untuk menimba ilmu di berbagai perusahaan minyak dan gas sebelum menjadi Dirut Pertamina.

Sosok pekerja keras yang memulai karier dari bawah juga terlihat pada Siti Fadilah Supari yang saat ini menjabat sebagai menteri kesehatan. Sebelum menduduki kursi menteri, Siti Fadilah berkarier di Rumah Sakit Harapan Kita selama 25 tahun. Di RS itu, dia pernah menjabat sebagai kepala pendataan dan penelitian (pusdalit). Pendidikan Siti Fadilah sejak strata satu hingga doktor dihabiskan untuk studi ilmu kedokteran. Dia merupakan lulusan S-3 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Siti Fadilah merupakan salah satu ahli jantung dan pembuluh darah yang dimiliki Indonesia.

Perempuan kelahiran Solo, 6 November 1949 ini, sebelum menjadi menteri, banyak menghabiskan waktu sebagai klinikus yang gemar melakukan riset. Di dalam riset, menurutnya, dibutuhkan pola pikir yang sesuai dengan strategi politik.

“Kalau periset adalah menegakkan dan mencari kebenaran, kalau berpikir politik tergantung dengan kepentingan,” kata Siti Fadilah.

Siti Fadilah juga termasuk sebagai anggota Koordinator Penelitian Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler FKUI. Sejak lama dia mempunyai perhatian pada pusat pelayanan masyarakat (puskesmas). Karena itu, tidak aneh jika salah satu program yang dicanangkannya pada awal menjabat adalah mengupayakan pemerataan kesehatan untuk memudahkan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan kesehatan.

Pengalaman dan kerja keras pula yang mengantar Meutia Hatta Swasono menjabat sebagai menteri negara pemberdayaan perempuan. Meutia adalah wanita yang menyandang gelar profesor di bidang antropologi. Pengabdiannya pada bidang antropologi tidak hanya dihabiskan sebagai pengajar di UI. Namun pengetahuannya di bidang antropologi juga dirasakan oleh kementerian kebudayaan dan pariwisata di mana dia pernah menjabat deputi bidang pelestarian dan pengembangan kebudayaan.

Sukses Meutia di posisi strategis saat ini bukan bermodalkan nama besar Bung Hatta, salah satu proklamator Indonesia. Selama berada dalam lingkungan UI, Meutia sangat akrab dengan dunia akademis dan penelitian karena dia bergabung dengan Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya. Semangat belajar dan kerja keras telah mengantarkannya pada posisi yang sekarang ini.

Tidak berlebihan jika Karen, Siti Fadilah, dan Meutia Hatta serta beberapa perempuan lain dijadikan sebagai figur-figur yang pantang menyerah dalam mengejar cita-cita. Kerja keras telah menjadi modal mereka dalam meniti karier hingga mencapai posisi puncak.

Menurut Meutia, sebenarnya semua perempuan Indonesia bisa mencapai posisi puncak. Sebab mereka mempunyai kemampuan dan potensi yang sangat besar. Namun Meutia mengakui bahwa mereka kadang tidak diberi kesempatan.

“Kalau mereka diberi kesempatan pasti akan maju,” ujar Meutia kepada SINDO.

Menurutnya, perempuan Indonesia harus lebih berperan dalam berbagai hal, termasuk dalam pemerintahan. Akan ada generasi perempuan baru yang akan menggantikan posisi penting seperti Sri Mulyani di Departemen Keuangan, Siti Fadilah di Departemen Kesehatan, Mari Elka Pangestu di Departemen Perdagangan, juga Karen Agustiawan di Pertamina.

“Perempuan harus maju terus, jangan pernah berhenti berpikir dan harus ada kemajuan serta harus memahami background setiap masalah yang dihadapi,” ujar Meutia. Hambatan Ideologi: Perempuan Masuk Politik

Dalam pandangan pengamat politik dan perempuan Universitas Indonesia Chusnul Mar’iyah, salah satu hambatan bagi perempuan untuk berkiprah di kancah politik adalah budaya dan pemahaman interpretasi agama. Sejak awal budaya patriarki mengatur masyarakat, terutama di dunia politik.

Hal itu mengakibatkan perempuan sulit masuk ke dalam dunia politik. Mulai dari organisasi kemahasiswaan sampai partai politik, bahkan organisasi agama seperti PP Muhammadiyah dan PB NU, hingga kini belum memiliki ketua umum atau ketua PB perempuan. Ada anggapan bahwa ulama itu hanya lelaki saja sehingga statistik jumlah ulama perempuan menjadi kosong alias tidak ada.

Menurut Chusnul, interpretasi agama yang melihat pemimpin adalah perempuan juga menjadi hal yang perlu disikapi secara cerdas. Apalagi, dalam sejarah bangsa Indonesia, sejak semula perempuan terlibat dalam melawan penjajahan, merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Istri para tokoh pejuang Indonesia Nyi Ahmad Dahlan, Nyi Wahid Hasyim, dan Ibu Inggit misalnya bekerja untuk tetap mempertahankan ekonomi keluarga. Namun, Chusnul prihatin atas ironisnya posisi dan kondisi perempuan yang sampai saat ini masih sangat tertinggal dari kaum lelaki.

Oleh karena itu, kata Chusnul, pendidikan menjadi sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan suksesi perempuan di tingkat puncak posisi politik. Dengan demikian, perempuan tidak lagi hanya tergantung pada male power relation untuk menempati posisi tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s