5 Menit untuk 5 Tahun

Posted on Updated on

Hari ni, tepatnya siang tadi kira-kira pukul 11.00 WIB adalah saat untuk pertama kalinya saya melaksanakan kewajiban sebagai warga negara yaitu mengikuti PEMILU 2009 di TPS 051 Kelurahan Kemiri Muka, Beji Depok Jawa Barat tak jauh dari rumah kontrakan saya. Kalau pemilu tahun lalu masih santer disebut nyoblos, sekarang sudah disebut dengan “nyontreng”, karena pemilu kali ini tidak pakai paku tapi pakai alat tulis atau ball point. Sempat ada perasaan bimbang dan ragu pada saat saya akan melakukan penyontrengan karena sama sekali belum mengikuti sosialisasi pemilu tahun ini. Pada putaran pemilu legislatif  sebelumnya, saya juga tidak ikut nyontreng alias “golput” dikarenakan orang tua tak sempat mengurus surat pindah memilih pada saat itu. Tapi alhamdulillah saya tetap bisa melakukan penyontrengan dengan lancar, karena sebelumnya pakai tanya tanya dulu dengan warga sekitar.🙂

Tapi kali ini kesan pemilu di mata saya sangat sepi. Berbeda sekali ketika saya ikut-ikutan datang ke TPS pas saya masih SMP di kota kelahiran saya, suasananya sangat ramai walaupun dilakukan di tempat yang sangat sederhana baik itu sebelum perhitungan suara dimulai atau setelah perhitungan suara dimulai. Apakah sekarang rasa nasionalisme bangsa kita menurun dari tahun ke tahun, atau lain kota lain suasananya, dan beda kota beda pula antusiasnya. Di sini saya dapat menganalisis perbedaan antara pemilu yang dilakukan di kota dan di kampung-kampung ( Ketahuan dulu tinggal di kmpung :)  ).  Orang kota sifat invidualisme nya lebih tinggi dari orang-orang yang tinggal di perkampungan. Kalau orang kota kebanyakan datang ke TPS nunggu keadaan sepi dulu, baru mau ke TPS. Ketika selesai nyontreng di TPS, gak pake ngobrol-ngobrol dulu sama panitia nya yang notabenen adalah tetangga rumah sekitar. Dan ada lagi yang lebih memprihatinkan, ada orang kota yang seperti ini “ntar gw nyontreng, kalau sempet”. hhe🙂.

Kalau orang desa atau daerah perkampungan lain lagi suasananya, bukan panitianya yang datang pagi-pagi, tapi yang mau ikutan nyontreng yang datang pagi-pagi sambil mondar mandir kalau-kalau panitia nya belum datang. Ketika selesai menggunakan hak suaranya orang desa kebanyakan duduk-duduk dulu nih sambil ngobrol-ngobrol, jadi suasana nya tampak lebih rame dan rasa antusias nya lebih terasa.🙂 Dan satu lagi tipe orang desa, rela pulang kampung kalau mau pemilu. “Sambil melaksanakan kewajiban, sambil melepaskan kerinduan..”. Itu kalau kata orang desa.🙂

Begitulah kira-kira gambaran sekilas tentang perbedaan antara keduanya. Tapi disini sama sekali saya tak bermaksud untuk menjelek-jelekkan orang kota lho..🙂 Memang tak bisa disalahkan, kadang-kadang kita ini selalu dihadapkan oleh tuntutan kehidupan yang membuat urusan lain seperti pemilu menjadi no.2. Dan ikut nyontreng adalah hak masing-masing warga negara Indonesia yang boleh diambil dan boleh juga tidak. Karena pada dasarnya nasib suatu bangsa itu ada di tangan bangsa itu sendiri. Kemajuan bangsa Indonesia ini juga bisa ditentukan oleh ketersediaan waktu kita untuk ikut menyontreng.🙂

Emang benar kata Band Cokelat “5 menit untuk 5 tahun”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s