Adam atau Manusia Purba?

Posted on Updated on

Berapa tahun anda belajar Sejarah? “Ntahlah, saya pun lupa”, barangkali itu jawaban teman-teman kita yang mungkin memang acuh tak acuh alias  masa bodo dengan mata pelajaran yang satu ini. Tak bisa dipungkiri, saya pun memang kurang demen dengan pelajaran Sejarah yang bikin saya mumet. Itu menurut saya loh 🙂 Di zaman saya, waktu saya sekolah dulu pelajaran Sejarah sudah ada sejak saya duduk di kelas 4 SD. Waktu itu masih mencakup tentang zaman kerajaan-kerajaan Indonesia sampai zaman penjajahan Jepang. Setelah saya SMP, topiknya berubah ke masalah zaman manusia purbakala. Sekalli lagi itu menurut kurikulum saya pas sekolah dulu loh:) Manusia purba yang pertama ditemui di Indonesia kalau tidak salah namanya Meganthropus Paleojavanicus, ditemukan di desa Sangiran Jawa Tengah. Penemunya lupa saya siapa namanya?:) Kemudian Pithecantropus Erectus ditemukan setelah it. Ditemukan dimana saya tidak ingat, tapi saya ingat nama penemunya.. “Eugene Dubois“:) Ternyata saya masih ingat sedikit tentang itu. Begitulah saya, walaupun belajarnya setengah hati tapi nilai Sejarah saya tak pernah di bawah angka 80. Bangga sekali.. 🙂 SMP kelas satu, saya pernah bertanya kepada guru sejarah saya “Bu Guru, bukannya nenek moyang manusia itu Nabi Adam?”. Guru saya menjawab,“Wah, kalau yang itu ibu juga blm tahu”. “Terkadang ilmu pengetahuan sering kebentur dengan masalah agama”. Jawaban yang sulit dicerna oleh saya yang masih lugu pada waktu itu:). “Pasti Nabi Adamlah”, jawab saya dalam hati.

SMA kelas satu, tepatnya 3 years later.. (kaya film aja:) ). Saya kembali bertanya kepada Guru saya ketika sesi tanya dibuka. Pertanyaannya saya kemas lebih dewasa, itu karena saya sudah beranjak dewasa..haha:) “Apakah Nabi Adam sejenis manusia Purba pak?”. Pertanyaan pamungkas ini sengaja saya keluarkan setelah teman-teman lain tidak ada lagi yang ingin bertanya. Kali ini cara menjawab pak Guru terlihat cukup berbeda. Tertegun sesaat kemudian mengangkat kepala. Tidak seperti sebelum-sebelumny, menjawab dengan refleks yang seadanya. Cukup jelas  terdengar tarikan napas Pak Guru untuk memulai kata-katanya. “Hmm, sebenarnya pertanyaan inilah yang dulu pernah Bapak tanyakan sendiri kepada Dosen ketika Bapak kuliah.” “Tapi beliau pun belum bisa menjawab pertanyaan itu dan bahkan belum menemukannya sampai akhir hayatnya”. “Ilmu pengetahuan itu mentoknya dengan agama” ,tambahnya. Jawaban yang persis dengan guru SMP saya, meskipun berbeda bentuknya. So, pertanyaan itu terkubur selama 3 tahun lagi.

Kamis, 18 September 2008. Kira-kira baru sekitar 2 bulan saya kuliah dan rambut saya pun masih botak gara-gara ikut ospek. Hari itu ada matkul umum Agama Islam yang tak bisa dipungkiri saya sukai. Saya suka karena dosennya yang luar biasa, yang selalu bisa memberi motivasi. Dialah Prof. Dr Hanif Saha Ghafur, salah satu guru besar Administrasi UI. Kok bisa yah ngajar Agama? [Panjang ceritanya kalau saya ceritakan.. :)] Kuliah kali ini membahas tentang “Asal Usul manusia menurut Islam”. Dari mulai air mani yang hina, melekatnya sperma pada ovum, sampai unsur-unsur tubuh manusia. Tanpa saya duga, pembicaraan mulai beralih ke manusia purba. Dan tanpa ada seorang pun yang bertanya beliaupun lebih dulu menjelaskan tentang apa yang saya tanyakan 6 tahun silam. Huah, lama juga yah.. 🙂 Beliau menjelaskan bahwa nenek moyang manusia adalah Adam, meskipun harus diakui bahwa Manusia Purba lebih dulu ada daripada Adam. “Coba buka Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 30 dan bacakan ayatnya sekaligus terjemahannya!”, kata beliau seraya menunjukkan salah satu mahasiswa untuk membacakannya.

Berikut potongan QS. Al-Baqarah: 30

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:’Sesungguhnya aku hendak menjadikan seseorang Di muka bumi.’Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi itu, orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ tuhan berfirman: sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’”

Renungkanlah percakapan antara Allah dengan Para Malaikat yang terkandung dalam ayat ini, sekaligus gunakan logika kita. Bagaimana Malaikat yang tidaklah pernah diberi unsur kreativitas dan daya analisis berfikir oleh Allah bisa mengetahui bahwasanya manusia itu suka saling membunuh? Kecuali Malaikat itu sendiri pernah melihat secara langsung. Ingatlah para malaikat hanya diberi ruh oleh Allah, tidak seperti kita manusia yang juga mempunyai nafs/jiwa yang bisa menampung ilmu pengetahuan, punya kreatifitas serta inovasi. Para malaikat sebelumnya sudah disetting oleh Allah sesuai kapasitas dan tugasnya masing-masing, ada yang menjaga Neraka, menjaga surga, mencabut Nyawa, menyampaikan wahyu, bahkan hanya sujud kpd Allah swt.

Itulah sebabnya mengapa manusia bisa lebih mulia daripada Malaikat dan bisa lebih hina dari binatang.

Secara ilmiah juga sudah terbukti, menurut test unsur carbon kita ini (homo sapiens) belum lebih dari 10 ribu tahun, sedangkan manusia purba ada yang 1 juta tahun. Jadi memang PURBA lebih tua dari manusia. Dilihat dari tingkah lakunya, manusia purba lebih mirip kepada binatang yang hanya mengandalkan insting, sehingga suka berpindah-pindah tempat (nomaden). Kaya siapa yah?hehe 🙂 Dengan demikian gugur sudah teori Evolusi Darwin yang sejak dini sudah kita pelajari.. 🙂 Mau apa satu nenek moyang ma om Darwin?? gwahaha..  🙂

Advertisements

Kuldesak Mendesak

Posted on Updated on

http://en.gravatar.com/accounts/force-by-email/wpcom/fifa_fslm23@yahoo.com/ff978ae1f02bdd2828e574cd813a7116?height=496&width=800&TB_iframe=true

Kuldesak

i look around, i fly to find
a space to lay my head upon
aku bagai bintang di gelap malam
di antara seribu bintang
terdampar di puing jagad raya
terkapar lelah tak berdaya
menangis, tertawa,
semua tak bisa dihindari

aku bagai buih di laut biru
tersapu ombak terhempas badai
aku bagai debu di padang pasir
terseret angin terbakar panas

tolonglah Tuhan beri petunjukMu
jalan yang benar menuju jalanMu
agar tak tersesat di persimpangan jalan

Sejenak ku telaah ringan lirik lagu yang menemaniku mengetik tugas presentasi matematika terapan yang notabenen akan ditampilkan di kelas 2 hari lagi. Sengaja kali ini ku pilih folder laguLama untuk menemani perjuanganku di sore ini. “Biar ga bosen”, kata hati kecilku. Tapi baru saja Once (vokalis Dewa) memulai intro dengan melafalkan “I Look around.. dst”, tanganku berhenti melakukan senamnya di sore hari. Sementara itu mataku menerawang jauh memikirkan beberapa keping kesombonganku yang telah lalu, jiwaku seolah olah terbang ke dimensi lain yang berbeda padahal raganya masih berada di depok, kota perbatasan antara prov DKI dan Jabar. Sungguh dalam makna dari lirik lagu ini. Itu sebabnya lagu ini punya magis tersendiri buatku :). Lagu yang sukses digarap oleh Ahmad Dhani pada tahun 2000 ini menyiratkan tentang betapa kecil dan rendahnya manusia dihadapan Sang Khalik. Hatiku gerimis rasanya, dan konsentrasiku buyar sudah.. 🙂 Ingin rasanya tangan ini memetik gitar Yamaha kesayanganku. Untung saja 3/4 bagian telah selesai, tinggal 1/4 lagi akan kukerjakan malam ini.

Dan akhirnya Kuldesak pun mendesakku.

jreng.. Kuldesak mode: on.. 🙂

Ar-Ruh

Posted on Updated on

Ruh adalah bagian dari kita yang sampai saat ini masih menjadi misteri bagi kita semua, bahkan ruhlah pembatas bagi perkembangan iptek dan agama dari sang khalik. Berikut adalah tulisan saya tentang ruh yang saya dapatkan dari beberapa sumber untuk dijadikan sarat mengukuti UAS matkul umum agama Islam di kampus saya. Semoga bermanfaat

small al-quran

Al Qur’an telah membahas tentang hakekat asal-usul manusia yang di awali dari proses kejadian manusia yaitu dari a’laqah ( melekatnya sperma pada ovum ) (QS. Al Alaq:1-5), dan setelah melewati beberapa tahapan dan sempurna kejadiannya, dihembuskan-Nyalah kepadanya ruh ciptaan Tuhan (QS. Shaad:71-72).
Dari ayat-ayat di atas menjadi jelas bahwa hakikat manusia terdiri dari dua unsur pokok yakni, campuran tanah ( تراب =debu, طين = lumpur, طين لازيب =tanah liat, حامسنون =tanah cadas,كالفجار صلصال =tembikar ) dan hembusan ruh (immateri). Di mana antara satu dengan satunya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan agar dapat di sebut manusia. Dalam perspektif sistem nafs, ruh menjadi faktor penting bagi aktivitas nafs manusia ketika hidup di muka bumi ini, sebab tanpa ruh, manusia sebagai totalitas tidak dapat lagi berpikir dan merasa.

Ruh adalah zat murni yang tinggi, suci, hidup dan hakekatnya berbeda dengan tubuh. Tubuh dapat diketahui dengan pancaindra manusia, sedangkan ruh menelusup ke dalam tubuh sebagaimana menyelusupnya air ke dalam bunga, tidak larut dan tidak terpecah-pecah. Untuk memberi kehidupan pada tubuh selama tubuh mampu menerimanya. Sudah lama “kemisteriusan” ruh menjadi perdebatan di kalangan ulama, teolog, filosof dan ahli sufi yang berusaha menyingkap dan menggali keberadaannya. Mereka mencoba mengupas dan mengulitinya guna mendapatkan kepastian tentang hakekat ruh. Dalam bahasa Arab, kata ruh mempunyai banyak arti.

  • Kata حور untuk ruh
  • Kata حير (rih) yang berarti angin
  • Kata حور (rawh) yang berarti rahmat

* Ruh dalam bahasa Arab juga digunakan untuk menyebut jiwa, nyawa, nafas, wahyu, perintah dan rahmat. Jika kata ruhani dalam bahasa Indonesia digunakan untuk menyebut lawan dari dimensi jasmani, maka dalam bahasa Arab kalimat “Rahaniyun”

Akan tetapi hakikat ruh yang sebenarnya tidak akan bisa dijangkau oleh akal pikiran manusia, karena sudah merupakan suatu ketentuan Allah bahwasanya urusan roh bukanlah urusan manusia. Jawaban singkat al-Qur’an atas pertanyaan itu (lihat QS. Al-Isra’: 85), menunjukkan bahwa ruh akan tetap menjadi “rahasia” yang kepastiannya hanya bisa diketahui oleh Allah semata.
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (QS. Al-Isra’: 85)

Ada kalangan yang bersikukuh bahwa hakikat manusia adalah jasad fisiknya. Ada yang beranggapan bahwa jasad dan ruh terwujud serentak sebagai hakikat pembentuk manusia. Sementara kalangan lain berhujah dengan tak kalah argumentatif bahwa ruh adalah jati dirinya.
Sebenarnya al-Quran telah menyebutkan adanya dimensi lain selain materi pada manusia yang disebut dengan ruh.
Sebagaimana yang terkandung dalam ayat berikut ini, “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ruh-Nya ke dalamnya dan Dia menjadikan untuk kalian pendengaran, penglihatan dan hati tetapi sedikit sekali kalian bersyukur”( QS.As Sajadah:9 ).
Kalimat “meniupkan ruh-Nya ke dalamnya” dalam ayat di atas menunjukkan adanya dimensi yang bernama ruh pada manusia. Bisa kita ambil kesimpulan dari ayat di atas bahwa setelah menyebutkan tentang peniupan ruh kemudian menyebutkan tentang telinga, mata dan hati. Penyebabnya adalah karena sumber yang menggerakkan jiwa (nafs) adalah ruh, begitu juga dengan sumber asli perbuatan anggota badan tersebut adalah ruh, sehingga menghasilkan gejala-gejala.

“Aku meniupkan ruh-Ku”. Ada dua aliran yang mempunyai perbedaan penafsiran ayat ini. Kaum Suni eksterralis view berpendapat bahwa ruh yang dimasukan ke dalam jasad manusia adalah ruh yang diciptakan oleh Allah khusus untuk manusia. Sedangkan kaum Sufi sunni (Sunni Esoteris) dan kaum syiah berpendapat bahwasanya ruh manusia berasal dari ruh Allah itu sendiri.
Penulis sendiri berpendapat bahwa Allah bukan ruh sehingga harus memasukkan sebagian ruh-Nya ke dalam tubuh manusia, akan tetapi yang dimaksud oleh al-Quran dengan penjelasan ini adalah kemuliaan dan ketinggian ruh itu sendiri. Yakni ruh begitu bernilai bagi manusia sehingga Allah menghubungkannya dengan diri-Nya dan mengatakan, “Aku meniupkan kepadanya ruh-Ku”. Bisa kita jelaskan dengan contoh lain seperti masjid adalah rumah Allah. Kita tahu bahwa masjid bukan rumah Allah, karena Dia bukan materi sehingga harus membutuhkan tempat tinggal, akan tetapi maksudnya adalah nilai dan pentingnya masjid sehingga disebut dengan rumah Allah. Contoh lain seperti majelis rakyat juga disebut sebagai rumah rakyat.

Sesungguhnya jiwa itu benar-benar menyuruh kepada keburukan (nafs ammarah)
(QS. Yusuf: 53)